Diantara "Stay" or "Leave"

Rasanya semuanya terjadi begitu cepat. Terasa seperti baru kemarin kita berkenalan. Bukan berkenalan sih, lebih tepatnya tahu kalau ada kamu di bumi ini dan kamu juga tahu kalau ada aku di bumi yang  sama-sama kita pijaki ini. Kamu mampu menjadi lilin di tengah dinginnya malam yang mencekamku. Bahkan kamu mampu menghadirkan sebentuk senyuman di bibir mungilku walau hanya dengan membaca pesan-pesan singkatmu. Semuanya terasa nyata bahkan saat kamu tak disampingku.

Sorot matamu, senyumanmu, tawamu atau bahkan sesuatu yang membuatmu konyol mampu mengacaukan bendungan yang sudah ku bangun. Ya, aku membangun benteng agar aku tidak jatuh terlalu dalam denganmu. Tapi benteng yang aku bangun kini sudah roboh karena pada kenyataannya aku tak sanggup untuk menolaknya. Ya, aku tidak sanggup untuk menolak sebuah perasaan yang datang tanpa aku memintanya. Kamu, ya kamu mampu mebuat bunga-bunga di taman hatiku yang dulunya layu bahkan hampir mati kini bermekaran bahakan indahnya tak mampu ku ungkapkan. Bibirku kelu untuk menjelaskannya. Semuanya terjadi tanpa aku minta.

Apakah ada yang salah dengan perasaanku? Maaf jikalau itu semua salah, tapi jujur aku tak mampu menolaknya. Tahukah kamu kalau senyummu mampu menyinari setiap kesedihan di hati. Keindahan hadirmu selalu ku nantikan saat ini.  Tanpa sadar kamu membuat aku selalu berangan. Tapi apakah aku bisa berharap lebih dari itu? Aku rasa itu cukup ku simpan di dalam mimpi saja.

Kini jarimu memberiku sebuah sayatan tajam yang menghasilkan luka di hatiku. Kamu hempaskan aku ke dalam lubang yang dalamnya bahkan tak ku ketahui. Kamu tinggalkan aku dalam kedinginan yang mungkin bisa membunuhku saat itu juga. Kamu biarkan aku berjalan dalam gelap tanpamu sama sekali. Bahkan kamu tak mengulurkan tanganmu untuk membantuku. Bodoh! Kenapa aku selalu memaafkanmu tiap kali kamu berikan goresan-goresan menyakitkan itu? Baru ku sadari kalau aku begitu tolol! Ya aku begitu tolol karena aku ternyata semakin jatuh terlalu dalam untuk mencintaimu.

Kalau kemarin-kemarin kamu menyakitiku maka sekarang kamu menghempaskanku dan itu rasanya amat sangat sakit. Kini kamu hadirkan dia. Ya kamu hadirkan dia yang selama ini menjadi bagian terindah dan teristimewa dalam hidupmu. Dia yang selalu kamu dekap dalam pelukan hangatmu. Dia yang selalu kamu berikan pelangi yang begitu indah. Dia yang selalu mendapatkan hal-hal istimewa darimu.

Terus bagaimana dengan aku? Kenapa kamu sanggup membuat musim semi dihatiku kalau pada akhirnya kamu sendiri yang membuat bunga-bunga itu layu, berguguran bahkan mungkin sampai mati. Kini aku hanya menjadi bayangan semu belaka. Dulu kamu terasa begitu amat sangat nyata bagiku tapi kini kamu terasa bagaikan halusinasi belaka walaupun kamu berada di sampingku. Kita terasa begitu jauh padahal kenyataannya kita masih dinaungi oleh awan yang sama. Kita masih berpijak dibumi yang sama. Dan kita juga masih berdiri di tempat yang sama; tempat dimana kita memulai semuanya. Tapi semuanya terasa tidak nyata. Kita seperti berada di dunia fatamorgana karena aku tak bisa meraihmu.

“Tetaplah disini, disampingku karena aku masih membutuhkanmu.”  Kenapa kamu masih memintaku untuk tetap disampingmu padahal kamu tahu itu akan sangat menyakitiku? Tak bisakah kamu biarkan aku pergi saja dengan membawa semua luka yang kamu berikan? Aku ingin pergi darimu tapi aku tak tahu apakah aku sanggup untuk benar-benar pergi darimu. Bayanganmu tak pernah mampu terusir dari benakku.

Aku mencintaimu. Aku tak tahu kapan pastinya aku memulai untuk mencintaimu. Aku hanya mendapati kenyataan kalau aku mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu. Tapi melihat kenyataan kalau kamu sudah dimiliki yang lain adalah hal yang sulit aku terima. Pada kenyataanya aku hanya temanmu. Hanya temanmu! Kuatkah aku tanpamu? Karena aku sudah terbiasa mencintaimu. Sanggupkah aku sendiri tanpamu disini? Aku yakin aku takkan pernah bisa.

Kalau saja dari awal aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini, aku akan menolak kehadiranmu walaupun aku tahu Tuhan akan memaksa untuk memasukkanmu  dalam hidupku. Kalau saja aku bisa membaca sorot matamu, maka aku akan menolak dengan sangat keras semua perasaan yang hadir. Kini aku bingung untuk tetap tinggal disampingmu yang akan memberiku luka yang semakin banyak atau aku pergi jauh dari hidupmu yang tak ku yakini bisa menjalaninya atau tidak.