Setelah Kau Tiada
Dulu terdapat
banyak sinar di matamu, sinar kehidupan, kebahagiaan, keceriaan dan lainnya
tapi kini sinar-sinar itu sudah lenyap dari sorot matamu.
Dulu tanganmu
selalu direntangkan sembari ingin memelukku dengan penuh kehangatan dengan
seluruh kasih sayang yang kau miliki, tapi kini tanganmu bahkan sudah kaku
tergeletak di atas tubuhmu.
Dulu bibirmu
selalu tersenyum seperti pelangi yang indahnya bahkan tak bisa ku unkapkan
dengan kata-kata yang selalu memberi warna dalam setiap hariku, tapi kini bibirmu
bahkan sudah terkatup rapat tak mampu untuk tersenyum.
Dulu tawamu
sangat renyah seperti sinar mentari yang selalu membuatku tak tahan untuk ikut
tertawa, tapi kini semua sudah sepi karna tawamu sudah menghilang.
Dulu kakimu
selalu melangkah bersama dengan kaki ku menyusuri setiap detik kehidupan yang
kita jalani bersama, tapi kini aku hanya berjalan sendirian tanpamu.
Dulu kita selalu
merencanakan hal-hal yang indah untuk kita jalani, tapi kini rencana itu bahkan
sudah terabaikan.
Dulu kita selalu
membuat kue bersama saat menjelang lebaran, tapi kini bahkan aku menjalani
Ramadhan tanpa mu disampingku.
Dulu tubuhnya
selalu hangat, tapi kini bahkan tubuhnya sudah dingin dan kaku.
Dulu kau masih
ada, tapi kini kau sudah tiada.
Dulu aku selalu
berdoa kepada Tuhan “ya Rabb aku rela jikalau penyakitnya engkau pindahkan ke
aku, sungguh aku rela untuk menanggung segala rasa sakit yang dideritanya asal
aku bisa melihatnya sebahagia dulu, seceria dulu dan tersenyum semanis dulu. Aku
rela ya Allah sunguh aku rela karena dia adalah salah satu alasanku untuk
bertahan hidup.” Tapi kini aku selalu berdoa “Ya Rabb, ampunilah segala dosa-dosanya, terimalah
segala amal ibadahnya, lapangkanlah kuburnya, jauhkanlah beliau dari siksa
kubur dan siksa api nerakaMu, berilah berilau tempat terbaik di sisiMu dan
pertemukanlah kami nanti di Surga Firdausmu ya Rabb. Sesungguhnya beliau adalah
seorang anak, teman, istri dan ibu yang baik.”
Sekarang aku
mendapati kenyataan bahwa kau telah tiada. Jujur aku masih sangat membutuhkanmu
ibu, aku masih ingin bermanja dalam pelukan hangatmu, aku masih membutuhkan
kasih sayangmu, aku masih ingin melihat dan mendengar tawamu yang selalu
menghiburku saat lara hati sedang melanda, aku masih sangat membutuhkanmu dan
sangat sangat membutuhkanmu.
Setelah kau
tiada, aku bahkan bingung bagaimana caraku untuk bangkit menjalani kehidupan
setelah ini. Bukannya aku tak mau bersyukur dan tak pernah bersyukur tapi
bagaimana mungkin aku bisa bersyukur atas kematian ibuku sendiri? Tuhaann...
ini terlalu cepat buatku dan terlalu cepat kau memanggilnya kembali padaMu. Aku
tahu Engkau lebih sayang sengan ibuku daripada aku tapi cobaan ini terlalu
berat ya Rabb. Jangankan untuk membahagiakannya, bahkan untuk mengucapkan
sepotong kata maaf saja aku tak sempat. Untuk mengatakan kalau dialah orangtua
terhebat yang aku punya dan aku sangat sayang sayang dengan beliau pun aku tak
sempat. Itu yang selalu mengganjal di hatiku.
Bagaimana mungkin
aku bisa bangkit kalau setiap malam aku selalu mendengar jeritan-jeritan
sakitnya saat di IGD yang membuatku kembali terjatuh setiap terbayang wajahnya
menahan sakit lalu dia pergi tanpa sepotong pesan-pesan terakhir. Itu sangat
beraat. Aku tahu kalau alm pasti menginginkanku untuk melanjutkan hidupku,
menggapai semua impian-impianku. Aku juga tahu diluar sana kalian teman-temanku
menginginkanku menjadi seperti dulu lagi sosok yang ceria, yang rela
mempermalukan dirinya hanya untuk membuat orang disekitarnya tertawa. Aku bukannya
tidak mau, tapi semua butuh proses karena semuanya tak semudah mereka yang mengucapkan.
Ya Rabb,
sampaikanlah pesan maafku dan rasa sayangku kepadanya dan jadikanlah aku
seperti beliau, seorang anak yang baik, istri yang luar biasa tegarnya dan
sekaligus seorang ibu yang sangat hebat. Amiin... Love you mom now, tomorrow and
forever...