Tentangmu, Si Pencuri Hati
Aku mengenalmu seperti
benda-benda langit. Senyum mu bagai matahari yang memberiku kehangatan. Saat
bersamamu hari-hariku bagai pelangi yang begitu indah. Mata dan tatapanmu
bagaikan hujan yang memberiku kesejukan saat menatapnya. Setiap malam aku selalu
menantikan kehadiranmu di langit sana. Aku tak pernah absen untuk menyapa mu,
melihat sinarmu yang paling terang karena ssat ini kamu masih menjadi
bintangku.
Detik
berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari berganti bulan. Dan
bulan berganti tahun. Begitulah seterusnya. Dulu aku masih mengagumimu. Bahkan rasa kagum itu kini bertambah menjadi
rasa sayang. Kamu tahu bagaimana indahnya bunga sakura yang bermekaran saat
musim semi? Ya, seperti itulah yang kurasakan. Rasa ini seperti bunga-bunga
yang bermekaran di taman hatiku. Indah bukan?
Aku
mencintaimu tanpa syarat apapun. Bahkan aku tak punya alasan kenapa aku bisa
mencintaimu. Rasa itu hadir tanpa ku minta. Bahkan aku tak mampu untuk menolaknya.
Sejauh ini kau masih yang tersulit untukku, tapi aku tak pernah ragu. Aku
memang penakut bahkan menjadi pengecut yang hanya bisa diam-diam menyukaimu.
Karna bagiku melihamu tersenyum lepas dan bahagia saja aku sudah senang meski
itu tak bersamaku.
Aku pasrahkan hatiku dan membiarkan takdir yang
menjawabnya. Jika aku bukan jalanmu aku akan berhenti mengharapkanmu. Tolong
ajari aku untuk melupakanmu bahkan melepasmu walaupun belum pernah ku raih. Aku
terlalu lemah untuk memberhentikan air mata yang mengalir untukmu ini. Untukmu
aku akan bertahan tanpa ku tahu sampai kapan ku mampu bertahan. Sedetik pun aku
tak pernah menyesal karena telah menjatuhkan pilihanku di kamu.
Hey.... aku sedang merindukanmu, apakah kau tahu itu?
Saat bulan penuh di atas kepala, aku menggantungkan doa untukmu di antara
bintang-bintang. Semoga suatu saat hatimu akan menoleh kepadaku, menyadari
bahwa akulah akhir dari penantian panjangmu.
Aku
ingin memelukmu, meraihmu, dan menyembunyikanmu dalam dekapanku. Dan
kesabaranku kian menipis seperti batu yang terus menerus di gerus oleh air. Aku
sudah menunggumu terlalu lama, nyerinya semakin lama kian terasa. Aku
mencintaimu, karnanya aku selalu merindukanmu. Namun, seperti pertanyaan yg ku
bisikkan pada sang rembulan malam itu : “Apakah kau juga sedang merindukanku?”
Untukmu si Pencuri Hatiku