Andai.....

Andai aku adalah bintang yang bersinar indah di langit, aku pasti akan mengeluarkan sinarku yang paling indah untuk menerangi  malam mu
Andai aku adalah sang surya pasti aku akan menerangi harimu tanpa membuatnya menjadi mendung
Andai aku bisa menuliskan namamu disamping lengkungan indahnya pelangi pasti semua orang akan tahu betapa indahnya arti hadirmu
Andai deburan ombak tak menyapu namamu di butiran pasir tepi pantai, pasti pantai itu akan menjadi pantai terindah utukku
Andai mendung tak bersahabat dengan sang langit pasti akan ku temukan dirimu yang selalu ceria secerah sang surya
Andai aku adalah hujan, takkan ku biarkan diriku jatuh mengenaimu
Andai aku adalah mawar, takkan ku biarkan duriku berani untuk menyakitimu
Andai angin dapat mengirimkan sepotong rindu ini padamu akan ku titipkan rindu ini padanya

Andai…… andai….. dan andai……
Itu semua hanyalah kata “Andai” yang mungkin hanya dapat ku temukan dalam mimpi yang ku harap selalu membuatku nyaman.

Saat jarak hadir memisahkan kita, bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal aku pun tak mampu. Rasanya lidah ini kelu untuk mengucapkannya.
Saat rindu datang menyapaku, aku tak tahu harus bagaimana mengatasinya. Ku titipkan sepotong rinduku pada angin, tapi tak pernah ada balasan rindu itu darimu.
Aku menunggu dan terus menunggu. Menunggu benih-benih yang ada di hatimu tumbuh bermekaran menjadi taman bunga yang indah untuk ku. Aku selalu menantikan senyummu yang secerah sang mentari datang untuk menghangatkan hariku. Aku menunggu tawamu yang seindah pelangi mewarnai hari-hariku.

Tapi aku hanya bisa menunggu…. Menunggu sesuatu yang tak akan kunjung datang. Yang datang hanyalah mendung yang membuat langit menjadi tak cerah secerah senyummu, hujan yang datang membasahi bumi tanpa adanya hadirmu, kabut tebal yang menyelimuti hari-hariku tanpa mu.

Ironis memang. Tapi itulah yang kuhadapi. Aku hanya hidup dalam kata “Andai” dan “Menunggu”. Seperti hidup dalam dunia dongeng yang entah kapan bisa berubah menjadi nyata……..